Kebetulan saya tidak sedang berada
di tanah air semenjak beberapa saat yang lalu. Dan banyak hal yang baru pertama
kali dilihat, yang berbeda dengan yang saya temui selama hidup Indonesia. Dan
sering kali hal - hal tersebut saya diskusikan dengan rekan-rekan di Indonesia,
baik di mailist list, forum diskusi, dll. Namun terkadang ada sesuatu yang
mengganjal yang saya rasakan. Beberapa kali respon yang saya baca justru hal
negatif, hingga tuduhan tidak nasionalis, dsb dan hal lain yang tidak saya
duga akan didapatkan dari berbagi informasi biasa, yang tujuannya sekedar
menambah wacana.
Hal ini
sedikit banyaknya menjadi pertanyaan bagi saya. Sebagai contoh ketika sedang berdiskusi topik bekerja
di suatu negara di mancanegara, tiba - tiba mucul respon seperti "seburuk apapun negri kita... Ya itu tetap
negri kita yang harus kita bangun" atau "cinta tanah air sebagian dari iman", atau "jangan sampai kayak manohar*, giliran udah
sengsara di negri orang baru deh", atau ketika
sharing mengenai berita, "Selangkah lagi WNI Tak Perlu
Visa Untuk ke Eropa", terdapat komentar seperti, "pariwisata indonesia akan turun, karena
lebih murah berwisata ke eropa dari pada dalam negri sendiri."
Saya heran. Sungguh. Benar - benar
heran. Nah agar keherananan itu tidak menjadi hal yang negativ, saya putuskan
untuk menulis.
Pertama, membangun negri tidak selamanya harus berada di negri yang kita bangun. Lebih lanjut, tidak bekerja dan berada ditanah air tidak berarti membuat seseorang tidak cinta tanah airnya.
Dalam
kasus visa diatas, menurut saya ada sisi positif yang sebenarnya jelas bisa dilihat. Salah
satunya, warga manca negara akan berpotensi tambah banyak berkunjung ke
indonesia. Mengapa bisa begitu? karena makin bertambah kesempatan untuk mereka
untuk mendapat informasi tentang indonesia, semakin sering bertemu dengan orang
indonesia asli, bertukar informasi. Sebagai contoh, beberapa kali saya
berdiskusi dengan traveller manca-negara dan mencari tau apa yang mereka tau tentang
Indonesia. Dan not surprise, umumnya masih sebatas Indonesia banyak teroris,
dan yang tidak toleran. Menyedihkan memang. Namun saya tidak heran, karena itu
yang umumnya mereka dapat di media lokal mereka. Kita seharusnya bisa berkaca
pada malaysia, singapura, dll mereka sudah lebih dikenal pariwisatanya, dan
terlebih penting penerimaan dan asumsi positif yang didapat secara umum.
Contoh
lain, seperti yang diungkapkan seorang rekan, akan banyaknya daerah-daerah yang
sangat besar potensi wisatanya namun masih sulit dijangkau, baik dari darat,
laut, maupun udara dan minim fasilitas. Kemudahan untuk mengakses daerah
potensi wisata tersebut, akan bisa ditingkatkan salah satunya dengan banyaknya
wisatawan yang berkunjung disana. Karena pada umumnya daerah-daerah seperti itu
sedikit lebih mahal untuk dikunjungi karena masih minimnya transportasi,
sehingga wisatawan international-lah (yang memiliki kecenderungan untuk
membelanjakan budget lebih
besar) yang berpotensi besar untuk mempercepat pengembangan area wisata itu,
yang pada akhirnya sekaligus mengembangkan ekonomi rakyat sekitar.
...
Kedua, kebetulan beberapa waktu yang lalu kebetulan saya membaca artikel "India's Leading Export: CEOs". Saya sempat beberapa kali berdiskusi ringan juga dengan kawan-kawan mengenai ini, yang memang tidak ada habisnya, baik mengenai sepak terjang mereka didunia kerja atau dikampus, begitu juga jika berbicara tentang Cina.
Kedua, kebetulan beberapa waktu yang lalu kebetulan saya membaca artikel "India's Leading Export: CEOs". Saya sempat beberapa kali berdiskusi ringan juga dengan kawan-kawan mengenai ini, yang memang tidak ada habisnya, baik mengenai sepak terjang mereka didunia kerja atau dikampus, begitu juga jika berbicara tentang Cina.
Dan
memang setidaknya itu juga yang saya lihat di swedia. Seorang kawan pernah
bercerita, ia heran kok tetangga kamar
sebelah (yang rekan indihe) berganti-ganti wajahnya...ternyata selidik punya
selidik, oalah..ternyata kamar untuk 1 orang diisi ber-6 :) Juga saya tidak
pernah melihat rekan dari cina yang tidak membawa makan siang ke kampus, pun
selalu paling lama pulangnya, walaupun sudah tidak ada kelas, tinggal di study
room, biasanya dengan rekan sesama dari
cina juga, kadang disambi nonton dan buka facebook versi cina (saya lupa nama
websitenya).
Menurut
Anies Baswaden, negara mereka setiap tahun menghasilkan ribuan doktoral
baik dari US atau Eropa. Jika kita perhatikan website-website universitas
terkemuka di Amerika, maka kita dapat menemukan banyak sekali mahasiswa Cina
dan India, baik sebagai dosen atau postgraduate (doctorate) student disana. Idealnya, tiap 5 postgraduate asal Cina,
4 postgraduate asal India, maka seharusnya ada 1 orang postgraduate asal Indonesia, berdasarkan rasio jumlah
penduduk. Namun, tidak begitu kenyataannya, setidaknya saat ini. Dan, untunglah
hal ini sudah mulai disadari pemerintah, dengan menaikan anggaran pendidikan
dan mengirimkan banyak anak-anak Indonesia belajar dengan beasiswa di negara
lain. Mudah-mudahan dalam beberapa tahun akan mulai sedikit nampak impact-nya.
Ada
salah satu perbedaan mendasar yang bisa kita lihat dari bagaimana kedua negara
ini mencapai hal serupa. India menurut saya cenderung lebih terbuka,
salah satu contoh dimulai dari pendidikan dini yang sudah berbasis bahasa
inggris. Contoh lain, India memberlakukan dual citizenship, yang salah satunya bertujuan untuk memudahkan warga negara mereka yang
menjadi expat dapat bergerak
lebih leluasa dinegara tempat mereka 'berkarya' tanpa harus kehilangan
kewarganegaraan india-nya, apalagi dibilang tidak nasionalis. Sedangkan
Cina sedikit lebih eksklusif dalam mempertahankan ke-Cina-annya. Yang
menjadi sesuatu kelebihan juga menurut saya, sehingga mereka bisa memenuhi
kebutuhannya sendiri bahkan membanjiri negara lain dengan produk dalam negri
mereka. Semua aspek dalam kebijakan negara dan produk yang digunakan rakyak,
didesain untuk mensuport kemandirian ekonomi mereka, dari facebook versi cina,
google versi cina, iphone versi cina, sampai sepak terjang si kipas merah.
Terlepas
dampak pros dan kons dari kebijakan dan model ekonomi mereka, jika ditarik benang
merah, ada aspek yang patut diacungi jempol dan dipelajari dari mereka: sikap
mental DETERMINASI, TIDAK GENGSI, dan BERANI HIDUP SUSAH..dalam arti kata ga jago kandang. Sehingga jangan
heran, jika India saat ini disebut sebagai peng-export CEO terbesar di dunia.
Dan Cina dengan produk-produk affordable. Dan
sudah menjadi penerimaan umum dalam masyarakat mereka: Berada
dan berkarya di negri orang bukan berarti tidak nasionalis, tapi
menjadi kesempatan untuk memberi impact pada
tanah air. Indonesia sebagai salah satu negara dengan jumlah polulasi besar
didunia, tentu bisa mencapai prestasi yang serupa, dengan cara ke-Indonesiaan
kita.
Marilah kita berpikir positif, tidak selamanya segala yang berasal dari
luar tidak patut dicontoh, dan vice versa, dan melihat dari hal - hal yang
baru, menilai apa yang baik dan buruk secara
objektiv, sehingga kita tidak menjadi bagian dari
orang-orang kuper dalam masyarakat global ini. Tidak segala sesuatunya harus
dihubung-hubungkan dengan nasionalisme, yang akhirnya menjadi nasionalisme
kesempitan. Akhir kata, saya teringat kalimat bapak Rhenald Kasali di tulisan
beliau berjudul Passport, “Anak-anak yang
melihat dunia akan terbuka matanya dan memakai nuraninya saat memimpin bangsa
di masa depan.”
Dari tepian laut baltik, salam Indonesia!
Adek Aidi
Adek Aidi
maaf Mb, ts ingin menanggapi yang "cinta tanah air sebagian dari iman", setauku yang pernah kubaca di Buku, negaranya (muslim) adalah dimana disebut Laa ilaha ila Allah Mb.. it means all over the world, except no one decree that sentence. kalau pakai batas negara jadi kotak2 deh :) wallahu'alam
ReplyDeleteWuah... bener banget tuh kak 100%
ReplyDeleteAku aja pengen S2 di luar negeri dikatain ambisius. Org indo mang kayak gitu negatif thinking melulu...
Doakan aku ya kak biar bisa kayak kakak so orang yang mencemooh aku nggak lagi berkicau... :D
Hi thanks sudah mampir!
ReplyDelete/Adek